Selasa, 13 September 2016

BAB 2 PENAKLUKKAN HISPANIA DAN PERANCIS SELATAN


Penaklukan Hispania, wilayah yang sekarang meliputi Iberia, Portugal dan Spanyol, oleh Kekhalifahan Umayyah pada tahun 711 M berlangsung tanpa rintangan yang berarti. Mudahnya penaklukkan Hispania tersebut disebabkan oleh faktor internal, yaitu tingginya tingkat kedisiplinan pasukan Kekhalifahan serta kepiawaian para komandan dalam mengomandoi pasukan yang multietnis tersebut. Kedua adalah faktor eksternal, disebabkan Kerajaan Visigoth yang tengah dirundung  dekadensi moral, sosio-politik dan ekonomi. Terlebih lagi Raja Roderick memerintah secara zalim. Akibatnya berkembang rasa kebencian rakyat terhadap dirinya itu.
Rapuhnya kondisi Kerajaan Visigoth dimanfaatkan secara cerdas oleh jenderal legendaris Thariq bin Ziyad. Thariq bukan saja disegani oleh para komandan pasukannya akan tetapi juga oleh lawannya di kalangan militer Visigoth. Sampai-sampai Thariq bin Ziyad dijuluki Taric el Tuerto (Tariq Si Mata Satu). Jendral Si Mata Satu inilah yang merancang invasi ke Hispania. Dengan bantuan Gubernur Julian dari Ceuta, wilayah di ujung tanduk Afrika Utara. Thariq dengan cerdik tidak menyeberangkan pasukannya ke Algericas melainkan ke Gibraltar, dan di tempat pendaratan itu Thariq membangun Zona Tumpuan Militer untuk konsolidasi pasukan sebelum melakukan ofensi militer lanjut di daratan Hispania.
Invasi tersebut diperintahkan oleh Khalifah Al-Walid bin 'Abdul Malik (705-715) dengan tujuan melenyapkan Kerajaan Visigoth yang zalim karena kerap menghasut rakyat Afrika Utara agar berulah membuat kekacauan di wilayah kekuasaan Muslim. Segera setelah konsolidasi pasukan pada tanggal 30 April 711, Thariq bersama pasukannya bergerak ke arah utara menuju medan perang Guadalete di mana Raja Roderick tewas terbunuh. Satu tahun berikutnya, atasan Thariq yang bernama Musa bin Nushair turut bergabung memperkuat pasukan Thariq, mereka bertempur untuk selama 8 tahun hingga menguasai sebagian besar Semenanjung Iberia kecuali daerah-daerah kecil di sebelah barat daya yaitu Galisia dan Asturias serta daerah-daerah Basque di Pirenia.
FAKTOR PENENTU KEMENANGAN PASUKAN MUSLIM
Setidaknya ada tiga faktor yang membantu kemenangan pasukan Muslim atas Kerajaan Visigoth. Faktor pertama adalah kekuatan pasukan Muslim khususnya dalam kualitas, sebab para serdadu terikat dalam ikatan persaudaraan (brotherhood) yang bersandar kepada ajaran Islam, yaitu keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi situasi yang seberat apapun. Di samping itu adalah kepiawaian panglima dan komandan tempur pasukan Muslim yang mampu menyatukan laskar-laskar dari etnis Arab lainnya dengan bangsa Moor (suku bangsa Berber). Faktor kedua adalah bantuan Gubernur Julian dari Ceuta oleh karena menyimpan dendam terhadap Raja Roderick yang memperkosa anak gadisnya yang cantik jelita Florinda. Ketiga adalah faktor eksternal rapuhnya kerajaan Visgoth itu sendiri, karena diskriminasi, korupsi serta kesewenang-wenangan para pejabat. Akibatnya dengan mudah pasukan Muslim pimpinan Tariq bin Ziyad memenangkan pertempuran demi pertempuran dalam ofensi militer merebut Andalusia.

Kekuatan Pasukan Muslim

Kestabilan emosional para komandan bersandar kepada ajaran Islam yang menekankan kepada (1) sidiq, kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, (2) amanah, dipercaya karena bertanggung jawab dalam menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, (3) fathanah, kecerdasan yang mampu melahirkan kemampuan menghadapi segala tantangan, (4) tabligh, jujur dalam penyampaian serta bertanggung jawab dalam keterbukaan. Dengan kata lain kepemimpinan para komandan Muslim tersebut berdiri di atas fondasi taqwa, ikhlas, penuh toleransi, sikap gotong royong, sabar dan tabah. Kualitas kepemimpinan yang demikian itulah yang mampu mengikat pasukan multietnis menjadi satu kesatuan yang tangguh, bak kata pepatah Jawa
“…sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli ... rawe-rawe rantas malang-malang putung …”
Sebagaimana diketahui ekspansi ke wilayah Magribi (arah matahari terbenam) telah dimulai sejak masa pemerintahan Muawiyah. Dibawah panglima Uqbah bin Nafi’ pasukan Muslim bergerak menaklukkan daerah-daerah di Afrika utara yang telah lama dikuasai bangsa Romawi. Pada tahun 670 M Tunisia berhasil dikuasai, dan di negri tersebut dibangun kota Koiruwan sebagai ibu kota serta pusat kebudayaan Islam. Namun, wilayah itu kemudian berhasil direbut kembali oleh bangsa Berber dibawah pimpinan Kusaila, yang sebelum memeluk Islam ia bergabung dengan pasukan Roma. Baru pada masa Abdul Malik bin Marwan wilayah tersebut berhasil direbut kembali oleh pasukan yang dipimpin Hasan bin Nu’man.
Keberhasilan Kekhalifahan Umayyah menguasai Mesir, membuka jalan bagi ekspedisi militer ke wilayah Magribi, daerah sepanjang pantai utara Afrika hingga Ceuta, yang waktu itu masih dibawah Gubernur Julian yang berada di bawah otoritas kerajaan Nasrani Visigoth. Kekhalifahan Umayyah beruntung karena didukung oleh tiga pahlawan Islam yang paling berjasa, yaitu Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair.
Meskipun Abdul Malik bin Marwan (685-705) berhasil menaklukkan Afrika Utara, akan tetapi dalam kenyataanya belum seluruh wilayah Afrika Utara benar-benar dikuasai. Masih banyak kantung-kantung di Afrika Utara yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Visigoth, dan lebih runyam lagi kerajaan ini sering menghasut penduduk agar menciptakan kerusuhan dan menentang kekuasaan Kekhalifahan Umayyah. Oleh sebab itu Kekalifahan Umayyah bertekad melanjutkan penaklukkan Afrika Utara hingga ke daerah-daerah pegunungan tempat mukim bangsa Moor, penduduk Muslim keturunan Berber dan Arab di daerah Magribi (Afrika Utara) semasa Zaman Pertengahan.  Kampanye militer di wilayah Magribi tersebut memakan waktu yang lama yaitu sekitar 45 tahun, dari tahun 660 M (masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan) hingga tahun 705 M (masa Al-Walid I).
Baru setelah Musa bin Nushair naik ke tampuk gubernuran menggantikan Hasan bin An-Nu'man al-Ghassani yang wafat pada tahun 708 M, wilayah kekuasaan kekhalifahan meluas hingga Aljazair, Maroko, serta pulau-pulau Majorka, Minorka, dan Ivoka. Lebih lanjut, Musa bin Nushair berhasil menuntaskan penaklukan daerah-daerah kekuasaan bangsa Berber di pegunungan-pegunungan. Usai membaiat masyarakat Berber serta memperoleh janji mereka untuk menghentikan perbuatan subversi dan kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Para pemuda bangsa Berber disatukan bersama unsur bangsa Arab lainnya ke dalam sebuah laskar Islam yang tangguh. Setelah berhasil membina pasukan multi etnis yang besar, barulah Musa bin Nushair mulai memusatkan perhatiannya untuk membuat perhitungan kepada Kerajaan Visigoth di Andalusia.
Bantuan Gubernur Julian dari Ceuta
Konon Julian, Gubernur Ceuta, yang sebenarnya berada di bawah kekuasaan Hispania memendam kebencian kepada Raja Roderick. Kisahnya bermula ketika Julian mengirim putrinya Florinda yang cantik jelita untuk belajar agama Nasrani di Visigoth. Ketika Sang raja melihat kecantikan putrinya Julian ia pun jatuh hati. Dengan sewenang-wenang ia memperkosa Florinda, sehingga Julian menjadi murka dan bertekad membalas kebrutalan Roderick. Ia segera mendatangi gubernur Tangier, Jendral Tariq Ibn Ziyad, untuk meminta bantuan.
Kerajaan Visigoth Yang Dekaden
Akibat dari ketidakmampuan Raja Roderick dalam memimpin pemerintahan kerajaan pun jatuh ke dalam kondisi yang menyedihkan. Secara politik, wilayah Iberia terkoyak-koyak ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothik bersikap tidak mendukung politik segregasi dalam beragama akibat Raja yang menganut aliran monofisit, apalagi terhadap penganut agama Yahudi. Meskipun penganut agama Yahudi merupakan bagian yang termasuk terbesar dari penduduk Iberia, mereka dipaksa dibaptis menurut agama Kristen, dan apabila menolak akan disiksa bahkan dibunuh secara brutal. Dalam kondisi tertekan itu, umat Yahudi yang tinggal di dalam koloni-koloni terpaksa melakukan perlawanan melalui tindak subversif.
Lebih parah lagi ketika Raja Visigoth Roderick Raja memindahkan ibu kota negaranya dari Hispalis ke Toletum, sementara Wittiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toletum, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achilla, kakak dan anak Wittiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick.
Rakyat bukan saja berada dalam kondisi melarat akan tetapi juga tertindas tanpa memiliki hak dan keadilan. Di dalam situasi seperti itu mereka mendambakan perubahan,  yang hanya dapat diperoleh dari kepemimpinan Islam di seberang selat yang menjalankan visi ‘rahmatan lil alamin’. Sebagaimana mereka saksikan di Afrika Timur dan Barat yang menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan.
Mereka pergi ke Afrika Utara untuk bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu konflik antara Roderick dengan Gubernur Julian dari Ceuta semakin membara, dan Julian pun bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara seraya mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Iberia. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal untuk digunakan oleh Tharif, Thariq dan Musa. Begitu pula orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan serta membantu perjuangan kaum Muslimin menundukkan Raja Roderick. Lebih buruk lagi tentara Krajaan Visigoth terdiri dari tentara bayaran dan para budak yang tertindas, sehingga dapat dipastikan tidak memiliki semangat untuk berperang. Hal yang demikian itu tentu sangat menguntungkan tentara Muslim ketika melancarkan invasi ke Visigoth pada tahun 711 M.
EKSPEDISI MILITER KE HISPANIA
Pendaratan Pasukan Perintis
Sebelum melakukan pendaratan besar-besaran Kekhalifahan Dinasti Umayyah mengirimkan pasukan perintis yang berfungsi pula sebagai pasukan pengintai dibawah pimpinan Tharif bin Malik. Ia bersama pasukan perangnya menyeberangi selat antara Maroko dan benua Eropa. Pasukan perang yang dibawanya terdiri atas lima ratus orang infantri dan pasukan kavaleri berkuda.
Mereka diseberangkan dengan empat buah kapal yang disediakan oleh Julian, mantan penguasa wilayah Ceuta. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia berhasil memperoleh data intelijen militer dan informasi mengenai ketahanan negri lawannya buat komando pasukan Kekhalifahan.
Penaklukkan Kerajaan Visigoth
Berdasarkan data intelijen dan informasi tentang ketahanan Kerajaan Visigoth, Musa bin Nusayr menunjuk Thariq bin Ziyad untuk memimpin tentara pembebasan Muslim. Thariq membawa 12.000 pasukan yang mayoritas terdiri atas bangsa Berber, dan hanya 300 orang bangsa Arab lainnya serta 700 orang bangsa Afrika. Julian dari Ceute bertugas sebagai intel dan penunjuk jalan pasukan. Para pasukan pun berangkat secara rahasia dari Ceuta menggunakan kapal Julian. Pendaratan pasukan dilakukan dalam beberapa sorti pada malam hari supaya tidak mencurigakan.
Awalnya Thariq ingin mendarat di Algeciras tetapi terpaksa dibatalkan atas dasar data intelijen yang mengungkap adanya konsentrasi pasukan Visigoth yang kuat yang menjaga kota tersebut. Akhirnya, Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat di Calpe, sebelah timur Algeciras, dan menjadikannya sebagai zona tumpuan perang atau batu loncatan bagi pasukan pendarat. Nama Calpe kemudian oleh Komando Militer diubah menjadi Jabal Al-Fatah (Gunung Kemenangan). Namun untuk menghormati jasa Thariq Si Mata Satu, nama Jabal Al Fatah kemudian diubah lagi menjadi Jabal Tariq atau Gibraltar untuk menghormati jendral legedaris Thariq bin Ziyad.
Segera setelah Thariq bin Ziyad berhasil menguasai Jabal Thariq, ia membangun zona tumpuan perang untuk konsolidasi serta persiapan pasukan sebelum melakukan ofensi lanjut. Kemudian ia melakukan momen historis dengan membakar kapal-kapal pendaratnya, seraya berorasi di hadapan para serdadunya,
"Ke manakah kalian dapat melarikan diri sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang kalian? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati kalian. Pertimbangkanlah situasi kalian: kalian berdiri di atas pulau ini bagaikan begitu banyak anak-anak yatim terlontar ke dunia; kalian akan segera bertemu dengan musuh yang kuat mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan gelombang kemarahan samudera yang bergejolak, dan mengirimkan prajurit-prajurit yang tak terhitung banyaknya pada kalian, bala tentara baju besi dan dilengkapi dengan segala senjata yang pernah ada. Apa yang dapat kalian gunakan untuk melawan mereka?
Kalian tak memiliki senjata lain kecuali pedang, tak punya perlengkapan lain kecuali yang telah kalian rampas dari musuh kalian. Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan segera atau jika tidak, maka hasrat kalian untuk menyerah akan tumbuh, angin kemenangan takkan lagi berhembus di pihak kalian, dan barangkali rasa gentar yang bersembunyi di hati musuh-musuh kalian akan berganti menjadi keberanian yang sukar dikekang!
Buanglah segala ketakutan dari hati kalian, percayalah kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah bahwa raja kafir itu tak akan mampu bertahan menghadapi serangan kita. Ia telah datang untuk menjadikan kita tuan dari kota-kota dan kastil-kastil yang dikuasainya, serta menyerahkan pada kita harta karunnya yang tak terhitung banyaknya. Dan jika kalian menangkap peluang yang kini tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari kematian yang tak terelakkan.
Janganlah berpikir bahwa aku membebankan tugas kepada kalian sementara aku sendiri akan lari menghindar, atau aku menutup-nutupi bahaya yang ada dalam mengemban ekspedisi ini. Tidak! Kalian memang akan menghadapi datangnya masalah besar, tetapi juga kalian mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja. Di akhir pertempuran ini kalian akan memungkuti panenan kebahagiaan dan kesenangan yang melimpah-limpah. Dan jangan bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada kalian, aku berniat untuk tidak melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi hasrat kalian. Apa yang akan aku lakukan melebihi apa yang akan kalian lakukan. Kalian pastilah telah mendengar keunggulan yang melimpah ruah dari pulau ini, kalian pastilah telah mendengar bagaimana para perawan Yunani, sama rupawannya dengan bidadari, leher mereka berkilau dengan mutiara dan permata tak terbilang banyaknya, tubuh mereka mengenakan tunik terbuat dari sutera-sutera mahal bertabur emas, mereka menunggu kedatangan kalian. Mereka bersandar di atas dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan dan pangeran bermahkota.
Kalian mengetahui benar bahwa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik telah memilih kalian seperti begitu banyak pahlawan lain dari kalangan para pemberani. Kalian tahu bahwa bangsawan-bangsawan besar tanah ini memiliki hasrat besar untuk menjadikan kalian anak mereka dan mengikat kalian dengan pernikahan, hanya jika kalian menyambut peperangan sebagaimana layaknya orang-orang berani dan pejuang sejati, serta menjadi ksatria yang berani.Kalian mengetahui bahwa rahmat Allah menantikan kalian jika kalian bersiap untuk menegakkan kalimat-Nya dan memproklamirkan dien-Nya di tanah ini.
Dan yang terakhir, tentu saja barang rampasan akan menjadi milik kalian dan kaum Muslim lainnya. Ingatlah baik-baik bahwa Allah Yang Mahaperkasa akan memilih sesuai janji ini yang terbaik di tengah kalian dan menganugerahinya pahala, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Dan ketahuilah aku akan berbuat demikian juga. Aku akan menjadi orang pertama yang akan memberi contoh pada kalian dan melakukan apa yang aku anjurkan pada kalian. Sebab inilah tujuanku, saat pertemuan dua pasukan ini, untuk menyerang raja Kristen yang lalim itu, Roderic, dan membunuhnya tanganku sendiri! insya Allah.
Saat kalian melihatku berkelahi mati-matian melawannya, seranglah musuh bersamaku. Jika aku membunuhnya, kemenangan menjadi milik kita. Jika aku terbunuh sebelum mendekatinya, jangan kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur seolah aku masih hidup dan berada di tengah kalian, dan ikuti tujuanku, sebab saat mereka melihat rajanya jatuh, pastilah kaum kafir ini akan kocar-kacir. Akan tetapi, jika aku terbunuh setelah menewaskan raja mereka itu, tunjuklah seseorang di antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan antara keberanian dan pengalaman, serta mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini, dan menindaklanjuti keberhasilan kita.
Jika kalian melaksanakan intruksi-intruksiku, niscaya kita akan menang!"
Ia pun menulis dan membacakan puisi untuk meningkatkan moril pasukannya menjelang pendaratan pasukannya,
“Kita telah mengendarai kapal yang kita
persiapkan untuk penyeberangan kita
Dan Allah hendak membeli jiwa, harta,
Dan keluarga kita dengan surga
Sungguh benar bahwa tak ada
Yang begitu kita harapkan di dunia ini
Sebagaimana juga tak penting bagi kita
Bagaimana menjumpai ajal saat memperoleh
Harga yang sedemikian didambakan"
Usai pendaratan Thariq segera melakukan konsolidasi pasukan serta menyiapkan pasukan sebelum berbaris maju dalam formasi menyerang menuju medan laga Guadalete. Di Palagan Giadelete itulah pasukan Kerajaan Vigoth yang jauh lebih besar dari pasukan Thariq dikalahkan bahkan Raja Roderick tewas terbunuh di tangan Thariq bin Ziyad.
Berita pun tersiar ke seluruh wilayah Visigoth tentang kedigdayaan Sang Jendral Legendaris Taric el Tuerto. Dari situ Thariq bersama pasukannya terus merangsak maju menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordoba, Granada dan Almunecar. Ketika Thariq bin Ziyad hendak bergerak lanjut menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Nushair di Afrika Utara. Nusa bin Nushair dengan segera mengirimkan pasukan tambahan sejumlah 5.000 personel, hingga jumlah pasukan Thariq bin Ziyad mencapai seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini masih belum sebanding dengan pasukan Visigoth yang jauh lebih besar yaitu 100.000 orang.
Sewaktu Thariq bin Ziyad memasuki Toletum (Toledo) ternyata kota tersebut sudah dikosongkan. Selanjutnya Thariq bergerak menaklukkan kota Meja (Medina Al Maida), dan di kota ini Thariq dan pasukannya menemukan harta rampasan perang yang banyak sekali, seperti:
  1. Meja Sulaiman, meja milik Nabi Sulaiman bin Daud yang konon dicuri dari istananya dan dibawa ke Spanyol
  2. Kitab-kitab kuno Injil, Taurat, dan Zabur berjumlah 21 salinan
  3. Sebuah kitab kuno tentang Nabi Ibrahim
  4. Sebuah kitab kuno tentang Nabi Musa
  5. Kitab-kitab kuno ilmu pengetahuan alam, yakni tentang obat-obatan, binatang, dan lainnya
  6. Mahkota-mahkota bertaburan emas dan permata milik raja Visigoth berjumlah 27
  7. Kitab-kitab kuno para filsuf
  8. Perhiasan dan karya seni yang indah
Setelah serentetan pembebasan tersebut, Thariq dan pasukannya beristirahat di Toledo, sambil menunggu Musa bin Nushair beserta pasukannya, sebab Musa merasa perlu melibatkan diri dalam arena perang dengan maksud membantu perjuangan. Bersama pasukannya yang besar Musa bin Nushair dengan ditemani Julian menyeberangi selat Gibraltar, dan satu persatu kota yang dilewati ditaklukkan. Setelah Musa bin Nushair berhasil menaklukkan Asidonia, Carmo, Hispalis, dan Emerita Augusta serta mengalahkan penguasa kerajaan Goth lainnya, Theodomirus dari Auraiola, ia bergabung dengan Thariq bin Ziyad di Toledo. Selanjutnya, kedua pemimpin pasukan Muslim berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Caesaraugusta sampai Navarra.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pada tahun 717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar Pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada As-Samh bin Malik Al-Khaulani, Gubernur Arab di Provinsi Andalusia (718-721 M). Ia memimpin pasukannya dengan sukses, dan mengepung berbagai kota Perancis termasuk Narbonne, Béziers, Agde, Lodève, Maguelonne (Montpellier) dan Nîmes. Selanjutnya bersama dengan tentaranya dalam jumlah yang cukup besar segera mengepung kota Toulouse yang memiliki tembok yang amat kuat. Pengepungan berlangsung cukup lama hingga awal musim panas, menyebabkan pihak yang bertahan mulai kekurangan perbekalan dan hampir saja terkalahkan. Namun pada tanggal 9 Juni 721 M datang bala bantuan adipati Aquitane, Eudes Agung, dengan pasukan yang besar. Mereka menyerang pasukan As-Samh dari belakang sehingga pasukan As-Samh terjepit di antara pasukan Toulouse dan Eudes. As-Samh berusaha melepaskan diri, namun gagal dan terjebak di Ballat. Disinilah As-Samh memutuskan untuk bertempur hingga titik darah terakhir, akan tetapi nasib berkata lain. Pasukan Kristen berhasil menghancurkan pasukan As-Samh, dan As-Samh sendiri terluka berat hingga kemudian meninggal tak lama sesudahnya pada tahun 721 M.
Ekspedisi militer Kekhalifahan Umayyah di Hispania dan Perancis Selatan.
(http://s65.photobucket.com/user/papa_giorgio/media/Islam/CologneFrance.jpg.html)
Kekhalifahan segera mengangkat Abdur Rahman al-Ghafiqi sebagai panglima perang baru, dan tanpa membuang waktu Abdur Rahman al-Ghafigi balik menyerang kembali kota kaum Frank. Pasukan Muslim Abdur Rahman al-Ghafiqi berhasil menunjukkan performansnya yang gemilang dengan menaklukkan Bordeaux dan Poitiers, dan dari kota tersebut ia bergerak menyerang kota Tours. Namun di tengah jalan, antara Poitiers dan Tours, ia dihadang oleh pasukan pimpinan Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan ia bersama pasukannya terpaksa mundur kembali ke Spanyol. Meskipun gagal akan tetapi pasukan Kekhalifahan masih tetap melakukan ofensi militer ke Avignon (tahun 734 M), ke Lyon (tahun 743 M), dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Mallorca, Korsika, Sardegna, Kreta, Rhodos, Siprus dan sebagian dari Sisilia hingga jatuh ke tangan pasukan Muslim Dinasti Umayyah. Gelombang ofensi kedua pasukan Muslim pada permulaan abad ke-8 M menunjukkan hasil yang bagus karena bukan saja menguasai seluruh Spanyol namun mampu melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar