Penaklukan Hispania, wilayah yang sekarang meliputi Iberia, Portugal dan Spanyol, oleh
Kekhalifahan Umayyah pada tahun 711 M berlangsung tanpa rintangan yang berarti.
Mudahnya penaklukkan Hispania tersebut disebabkan oleh faktor internal, yaitu
tingginya tingkat kedisiplinan pasukan Kekhalifahan serta kepiawaian para
komandan dalam mengomandoi pasukan yang multietnis tersebut. Kedua adalah
faktor eksternal, disebabkan Kerajaan Visigoth yang tengah dirundung dekadensi moral, sosio-politik dan ekonomi. Terlebih
lagi Raja Roderick memerintah secara zalim. Akibatnya berkembang rasa kebencian
rakyat terhadap dirinya itu.
Rapuhnya kondisi Kerajaan Visigoth dimanfaatkan secara
cerdas oleh jenderal legendaris
Thariq
bin Ziyad. Thariq bukan saja disegani oleh para komandan
pasukannya akan tetapi juga oleh lawannya di kalangan militer Visigoth.
Sampai-sampai Thariq bin Ziyad dijuluki Taric el Tuerto (Tariq Si Mata
Satu). Jendral Si Mata Satu inilah yang merancang invasi ke Hispania. Dengan
bantuan Gubernur Julian dari Ceuta,
wilayah di ujung tanduk Afrika Utara. Thariq dengan
cerdik tidak menyeberangkan pasukannya ke Algericas melainkan ke Gibraltar,
dan di tempat pendaratan itu Thariq membangun Zona Tumpuan Militer untuk
konsolidasi pasukan sebelum melakukan ofensi militer lanjut di daratan
Hispania.
Invasi tersebut diperintahkan oleh Khalifah Al-Walid
bin 'Abdul Malik (705-715) dengan tujuan
melenyapkan Kerajaan Visigoth yang zalim karena kerap menghasut rakyat Afrika
Utara agar berulah membuat kekacauan di wilayah kekuasaan Muslim. Segera
setelah konsolidasi pasukan pada tanggal 30 April 711, Thariq bersama pasukannya bergerak ke
arah utara menuju medan perang Guadalete
di mana
Raja Roderick tewas terbunuh. Satu tahun berikutnya, atasan Thariq
yang bernama Musa bin Nushair turut bergabung
memperkuat pasukan Thariq, mereka bertempur untuk selama 8 tahun hingga
menguasai sebagian besar Semenanjung
Iberia kecuali daerah-daerah kecil di sebelah barat daya yaitu Galisia dan Asturias serta
daerah-daerah Basque di Pirenia.
FAKTOR PENENTU KEMENANGAN PASUKAN MUSLIM
Setidaknya ada tiga faktor yang membantu kemenangan
pasukan Muslim atas Kerajaan Visigoth. Faktor pertama adalah kekuatan pasukan
Muslim khususnya dalam kualitas, sebab para serdadu terikat dalam ikatan
persaudaraan (brotherhood) yang
bersandar kepada ajaran Islam, yaitu keikhlasan dan kesabaran dalam menghadapi
situasi yang seberat apapun. Di samping itu adalah kepiawaian panglima dan
komandan tempur pasukan Muslim yang mampu menyatukan laskar-laskar dari etnis
Arab lainnya dengan bangsa Moor (suku bangsa Berber). Faktor kedua adalah
bantuan Gubernur Julian dari Ceuta oleh karena menyimpan dendam terhadap Raja
Roderick yang memperkosa anak gadisnya yang cantik jelita Florinda. Ketiga
adalah faktor eksternal rapuhnya kerajaan Visgoth itu sendiri, karena
diskriminasi, korupsi serta kesewenang-wenangan para pejabat. Akibatnya dengan
mudah pasukan Muslim pimpinan Tariq bin Ziyad memenangkan pertempuran demi pertempuran dalam ofensi militer merebut Andalusia.
Kekuatan Pasukan
Muslim
Kestabilan emosional para komandan bersandar kepada ajaran
Islam yang menekankan kepada (1) sidiq, kebenaran
dan kesungguhan dalam bersikap, (2) amanah, dipercaya karena bertanggung
jawab dalam menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, (3) fathanah,
kecerdasan yang mampu melahirkan kemampuan menghadapi segala tantangan, (4)
tabligh, jujur dalam penyampaian serta bertanggung jawab dalam keterbukaan.
Dengan kata lain kepemimpinan para komandan Muslim tersebut berdiri di atas
fondasi taqwa, ikhlas, penuh toleransi, sikap gotong royong, sabar dan tabah. Kualitas
kepemimpinan yang demikian itulah yang mampu mengikat pasukan multietnis
menjadi satu kesatuan yang tangguh, bak kata pepatah Jawa
“…sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan
mbancangi, dhuwur tan ngungkuli ... rawe-rawe rantas
malang-malang putung …”
Sebagaimana diketahui ekspansi
ke wilayah Magribi (arah matahari terbenam) telah dimulai sejak masa
pemerintahan Muawiyah. Dibawah panglima Uqbah bin Nafi’ pasukan Muslim bergerak
menaklukkan daerah-daerah di Afrika utara yang telah lama dikuasai bangsa Romawi.
Pada tahun 670 M Tunisia berhasil dikuasai, dan di negri tersebut dibangun kota
Koiruwan sebagai ibu kota serta pusat kebudayaan Islam.
Namun, wilayah itu kemudian berhasil direbut kembali oleh bangsa Berber dibawah
pimpinan Kusaila, yang sebelum memeluk Islam ia
bergabung dengan pasukan Roma. Baru pada masa Abdul Malik
bin Marwan wilayah tersebut berhasil direbut kembali oleh pasukan yang dipimpin
Hasan bin Nu’man.
Keberhasilan Kekhalifahan Umayyah menguasai Mesir, membuka
jalan bagi ekspedisi militer ke wilayah Magribi, daerah sepanjang pantai utara
Afrika hingga Ceuta, yang waktu itu masih dibawah Gubernur Julian yang berada
di bawah otoritas kerajaan Nasrani Visigoth. Kekhalifahan Umayyah beruntung
karena didukung oleh tiga pahlawan Islam yang paling berjasa, yaitu Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa
bin Nushair.
Meskipun Abdul Malik bin Marwan (685-705) berhasil menaklukkan
Afrika Utara, akan tetapi dalam kenyataanya belum seluruh wilayah Afrika Utara benar-benar
dikuasai. Masih banyak kantung-kantung di Afrika Utara yang menjadi basis
kekuasaan kerajaan Visigoth, dan lebih runyam lagi kerajaan ini sering
menghasut penduduk agar menciptakan kerusuhan dan menentang kekuasaan Kekhalifahan
Umayyah. Oleh sebab itu Kekalifahan Umayyah bertekad melanjutkan penaklukkan
Afrika Utara hingga ke daerah-daerah pegunungan tempat mukim bangsa Moor,
penduduk Muslim keturunan Berber dan Arab di daerah Magribi (Afrika Utara)
semasa Zaman Pertengahan. Kampanye
militer di wilayah Magribi tersebut memakan waktu yang lama yaitu sekitar 45
tahun, dari tahun 660 M (masa
pemerintahan Muawiyah
bin Abu Sufyan) hingga tahun 705 M (masa Al-Walid
I).
Baru setelah Musa bin Nushair naik ke tampuk gubernuran menggantikan
Hasan bin An-Nu'man al-Ghassani yang
wafat pada tahun 708 M, wilayah kekuasaan
kekhalifahan meluas hingga Aljazair, Maroko, serta pulau-pulau Majorka,
Minorka, dan Ivoka. Lebih lanjut, Musa bin Nushair berhasil menuntaskan penaklukan daerah-daerah
kekuasaan bangsa Berber di pegunungan-pegunungan. Usai membaiat masyarakat
Berber serta memperoleh janji mereka untuk menghentikan perbuatan subversi dan kekacauan-kekacauan
seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Para pemuda bangsa Berber disatukan
bersama unsur bangsa Arab lainnya ke dalam sebuah laskar Islam yang tangguh.
Setelah berhasil membina pasukan multi etnis yang besar, barulah Musa bin
Nushair mulai memusatkan perhatiannya untuk membuat perhitungan kepada Kerajaan
Visigoth di Andalusia.
Bantuan Gubernur Julian dari Ceuta
Konon Julian, Gubernur Ceuta, yang sebenarnya berada di
bawah kekuasaan Hispania memendam kebencian kepada Raja Roderick. Kisahnya
bermula ketika Julian mengirim putrinya Florinda yang cantik jelita untuk
belajar agama Nasrani di Visigoth. Ketika Sang raja melihat kecantikan putrinya
Julian ia pun jatuh hati. Dengan sewenang-wenang ia memperkosa Florinda, sehingga Julian menjadi
murka dan bertekad membalas kebrutalan Roderick. Ia segera mendatangi gubernur
Tangier, Jendral Tariq Ibn Ziyad, untuk meminta bantuan.
Kerajaan Visigoth
Yang Dekaden
Akibat dari ketidakmampuan Raja Roderick dalam memimpin pemerintahan
kerajaan pun jatuh ke dalam kondisi yang menyedihkan. Secara politik, wilayah
Iberia terkoyak-koyak ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu
penguasa Gothik bersikap tidak mendukung politik segregasi dalam beragama akibat
Raja yang menganut aliran monofisit, apalagi
terhadap penganut agama Yahudi. Meskipun penganut
agama Yahudi merupakan bagian yang termasuk terbesar dari penduduk Iberia,
mereka dipaksa dibaptis menurut agama Kristen, dan apabila
menolak akan disiksa bahkan dibunuh secara brutal. Dalam kondisi tertekan itu,
umat Yahudi yang tinggal di dalam koloni-koloni terpaksa melakukan perlawanan melalui
tindak subversif.
Lebih parah lagi ketika Raja Visigoth Roderick Raja
memindahkan ibu kota negaranya dari Hispalis ke Toletum, sementara Wittiza, yang
saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toletum, diberhentikan begitu saja.
Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achilla, kakak dan anak Wittiza. Keduanya
kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick.
Rakyat bukan saja berada dalam kondisi melarat akan
tetapi juga tertindas tanpa memiliki hak dan keadilan. Di dalam situasi seperti
itu mereka mendambakan perubahan, yang
hanya dapat diperoleh dari kepemimpinan Islam di seberang selat yang menjalankan visi ‘rahmatan lil alamin’. Sebagaimana
mereka saksikan di Afrika
Timur dan Barat yang menikmati
kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan.
Mereka pergi ke Afrika Utara untuk
bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu konflik antara Roderick dengan Gubernur
Julian dari Ceuta semakin membara, dan Julian pun bergabung dengan kaum
Muslimin di Afrika Utara seraya mendukung usaha umat Islam untuk menguasai
Iberia. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal untuk digunakan oleh
Tharif, Thariq dan Musa. Begitu pula orang Yahudi yang selama
ini tertekan juga mengadakan persekutuan serta membantu perjuangan kaum
Muslimin menundukkan Raja Roderick. Lebih buruk lagi tentara Krajaan Visigoth terdiri
dari tentara bayaran dan para budak yang tertindas, sehingga dapat dipastikan tidak
memiliki semangat untuk berperang. Hal yang demikian itu tentu sangat
menguntungkan tentara Muslim ketika melancarkan
invasi ke Visigoth pada tahun 711 M.
EKSPEDISI MILITER
KE HISPANIA
Pendaratan
Pasukan Perintis
Sebelum melakukan pendaratan besar-besaran Kekhalifahan Dinasti
Umayyah mengirimkan pasukan perintis yang berfungsi pula sebagai pasukan
pengintai dibawah pimpinan Tharif bin Malik. Ia bersama pasukan perangnya menyeberangi selat antara Maroko dan benua
Eropa. Pasukan perang yang dibawanya terdiri atas lima ratus orang infantri dan
pasukan kavaleri berkuda.
Mereka diseberangkan dengan empat buah kapal yang
disediakan oleh Julian, mantan penguasa wilayah Ceuta. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat
perlawanan yang berarti. Ia berhasil memperoleh data intelijen militer dan
informasi mengenai ketahanan negri lawannya buat komando pasukan Kekhalifahan.
Penaklukkan
Kerajaan Visigoth
Berdasarkan data intelijen dan informasi tentang
ketahanan Kerajaan Visigoth, Musa bin Nusayr menunjuk Thariq bin Ziyad untuk memimpin tentara pembebasan Muslim. Thariq
membawa 12.000 pasukan yang mayoritas terdiri atas bangsa Berber, dan hanya 300
orang bangsa Arab lainnya serta 700 orang bangsa Afrika. Julian dari Ceute bertugas sebagai intel dan penunjuk jalan pasukan. Para pasukan
pun berangkat secara rahasia dari Ceuta menggunakan kapal Julian. Pendaratan
pasukan dilakukan dalam beberapa sorti pada malam hari supaya tidak
mencurigakan.
Awalnya Thariq ingin mendarat di Algeciras tetapi terpaksa dibatalkan atas dasar data intelijen yang mengungkap
adanya konsentrasi pasukan Visigoth yang kuat yang menjaga kota tersebut.
Akhirnya, Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat di Calpe, sebelah timur Algeciras, dan menjadikannya sebagai zona tumpuan perang atau batu loncatan bagi pasukan
pendarat. Nama Calpe kemudian oleh Komando Militer diubah menjadi Jabal
Al-Fatah (Gunung Kemenangan). Namun untuk menghormati jasa Thariq
Si Mata Satu, nama Jabal Al Fatah kemudian diubah lagi menjadi Jabal Tariq atau Gibraltar untuk menghormati jendral legedaris Thariq bin Ziyad.
Segera setelah Thariq bin Ziyad berhasil menguasai Jabal
Thariq, ia membangun zona tumpuan perang untuk konsolidasi serta persiapan pasukan
sebelum melakukan ofensi lanjut. Kemudian ia melakukan momen historis dengan
membakar kapal-kapal pendaratnya, seraya berorasi di hadapan para serdadunya,
"Ke manakah kalian dapat
melarikan diri sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang
kalian? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian
dan keteguhan hati kalian. Pertimbangkanlah situasi kalian: kalian berdiri di
atas pulau ini bagaikan begitu banyak anak-anak yatim terlontar ke dunia;
kalian akan segera bertemu dengan musuh yang kuat mengepung kalian dari segala
penjuru bagaikan gelombang kemarahan samudera yang bergejolak, dan mengirimkan
prajurit-prajurit yang tak terhitung banyaknya pada kalian, bala tentara baju
besi dan dilengkapi dengan segala senjata yang pernah ada. Apa yang dapat kalian gunakan
untuk melawan mereka?
Kalian tak memiliki senjata
lain kecuali pedang, tak punya perlengkapan lain kecuali yang telah kalian
rampas dari musuh kalian. Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan
segera atau jika tidak, maka hasrat kalian untuk menyerah akan tumbuh, angin
kemenangan takkan lagi berhembus di pihak kalian, dan barangkali rasa gentar
yang bersembunyi di hati musuh-musuh kalian akan berganti menjadi keberanian
yang sukar dikekang!
Buanglah segala ketakutan dari
hati kalian, percayalah kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah bahwa
raja kafir itu tak akan mampu bertahan menghadapi serangan kita. Ia telah
datang untuk menjadikan kita tuan dari kota-kota dan kastil-kastil yang
dikuasainya, serta menyerahkan pada kita harta karunnya yang tak terhitung
banyaknya. Dan jika kalian menangkap peluang yang kini tersedia, maka itu bisa
menjadi cara bagi kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan
menyelamatkan diri kalian dari kematian yang tak terelakkan.
Janganlah berpikir bahwa aku
membebankan tugas kepada kalian sementara aku sendiri akan lari menghindar,
atau aku menutup-nutupi bahaya yang ada dalam mengemban ekspedisi ini. Tidak!
Kalian memang akan menghadapi datangnya masalah besar, tetapi juga kalian
mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja. Di akhir
pertempuran ini kalian akan memungkuti panenan kebahagiaan dan kesenangan yang
melimpah-limpah. Dan jangan bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada
kalian, aku berniat untuk tidak melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran
ini jauh melebihi hasrat kalian. Apa yang akan aku lakukan melebihi apa yang
akan kalian lakukan. Kalian pastilah telah mendengar keunggulan yang melimpah
ruah dari pulau ini, kalian pastilah telah mendengar bagaimana para perawan
Yunani, sama rupawannya dengan bidadari, leher mereka berkilau dengan mutiara
dan permata tak terbilang banyaknya, tubuh mereka mengenakan tunik terbuat dari
sutera-sutera mahal bertabur emas, mereka menunggu kedatangan kalian. Mereka
bersandar di atas dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan
dan pangeran bermahkota.
Kalian mengetahui benar bahwa
Khalifah Al-Walid
bin Abdul Malik telah
memilih kalian seperti begitu banyak pahlawan lain dari kalangan para
pemberani. Kalian tahu bahwa bangsawan-bangsawan besar tanah ini memiliki
hasrat besar untuk menjadikan kalian anak mereka dan mengikat kalian dengan
pernikahan, hanya jika kalian menyambut peperangan sebagaimana layaknya
orang-orang berani dan pejuang sejati, serta menjadi ksatria yang berani.Kalian
mengetahui bahwa rahmat Allah menantikan kalian jika kalian bersiap untuk
menegakkan kalimat-Nya dan memproklamirkan dien-Nya di tanah ini.
Dan yang terakhir, tentu saja
barang rampasan akan menjadi milik kalian dan kaum Muslim lainnya. Ingatlah
baik-baik bahwa Allah Yang Mahaperkasa akan memilih sesuai janji ini yang
terbaik di tengah kalian dan menganugerahinya pahala, baik di dunia ini maupun
di akhirat nanti. Dan ketahuilah aku akan berbuat demikian juga. Aku akan
menjadi orang pertama yang akan memberi contoh pada kalian dan melakukan apa
yang aku anjurkan pada kalian. Sebab inilah tujuanku, saat pertemuan dua
pasukan ini, untuk menyerang raja Kristen yang lalim itu, Roderic, dan membunuhnya tanganku sendiri! insya Allah.
Saat kalian melihatku
berkelahi mati-matian melawannya, seranglah musuh bersamaku. Jika aku
membunuhnya, kemenangan menjadi milik kita. Jika aku terbunuh sebelum
mendekatinya, jangan kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur
seolah aku masih hidup dan berada di tengah kalian, dan ikuti tujuanku, sebab
saat mereka melihat rajanya jatuh, pastilah kaum kafir ini akan kocar-kacir.
Akan tetapi, jika aku terbunuh setelah menewaskan raja mereka itu, tunjuklah
seseorang di antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan antara
keberanian dan pengalaman, serta mampu memimpin kalian dalam situasi genting
ini, dan menindaklanjuti keberhasilan kita.
Jika kalian melaksanakan
intruksi-intruksiku, niscaya kita akan menang!"
Ia pun menulis dan membacakan puisi untuk meningkatkan
moril pasukannya menjelang pendaratan pasukannya,
“Kita telah mengendarai kapal yang kita
persiapkan untuk penyeberangan kita
Dan Allah hendak membeli jiwa, harta,
Dan keluarga kita dengan surga
Sungguh benar bahwa tak ada
Yang begitu kita harapkan di dunia ini
Sebagaimana juga tak penting bagi kita
Bagaimana menjumpai ajal saat memperoleh
Harga yang sedemikian
didambakan"
Usai pendaratan Thariq segera melakukan konsolidasi
pasukan serta menyiapkan pasukan sebelum berbaris maju dalam formasi menyerang
menuju medan laga Guadalete.
Di Palagan Giadelete itulah pasukan Kerajaan Vigoth yang jauh lebih besar dari
pasukan Thariq dikalahkan bahkan Raja Roderick tewas terbunuh
di tangan Thariq bin Ziyad.
Berita pun tersiar ke seluruh wilayah Visigoth tentang
kedigdayaan Sang Jendral Legendaris Taric
el Tuerto. Dari situ Thariq bersama pasukannya terus merangsak maju
menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordoba, Granada
dan Almunecar. Ketika Thariq bin Ziyad hendak bergerak lanjut menaklukkan
kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa bin Nushair di Afrika Utara. Nusa
bin Nushair dengan segera mengirimkan pasukan tambahan sejumlah 5.000 personel,
hingga jumlah pasukan Thariq bin Ziyad mencapai seluruhnya 12.000 orang. Jumlah
ini masih belum sebanding dengan pasukan Visigoth yang jauh lebih besar yaitu
100.000 orang.
Sewaktu Thariq bin Ziyad memasuki
Toletum (Toledo) ternyata kota tersebut sudah dikosongkan. Selanjutnya Thariq bergerak
menaklukkan kota Meja (Medina Al Maida), dan di kota ini Thariq dan pasukannya menemukan harta rampasan perang yang
banyak sekali, seperti:
- Meja
Sulaiman, meja milik Nabi Sulaiman bin Daud yang konon
dicuri dari istananya dan dibawa ke Spanyol
- Kitab-kitab kuno Injil, Taurat, dan Zabur berjumlah 21 salinan
- Sebuah kitab kuno tentang Nabi Ibrahim
- Sebuah kitab kuno tentang Nabi Musa
- Kitab-kitab kuno ilmu pengetahuan alam, yakni
tentang obat-obatan, binatang, dan lainnya
- Mahkota-mahkota bertaburan emas dan permata milik
raja Visigoth berjumlah 27
- Kitab-kitab kuno para filsuf
- Perhiasan dan karya seni yang indah
Setelah serentetan pembebasan tersebut, Thariq dan
pasukannya beristirahat di Toledo, sambil menunggu
Musa bin Nushair beserta pasukannya, sebab Musa merasa perlu melibatkan diri
dalam arena perang dengan maksud membantu perjuangan. Bersama pasukannya yang
besar Musa bin Nushair dengan ditemani Julian menyeberangi selat Gibraltar, dan
satu persatu kota yang dilewati ditaklukkan. Setelah Musa bin Nushair berhasil
menaklukkan Asidonia, Carmo, Hispalis, dan Emerita Augusta serta
mengalahkan penguasa kerajaan Goth lainnya, Theodomirus dari Auraiola, ia bergabung
dengan Thariq bin Ziyad di Toledo. Selanjutnya, kedua pemimpin pasukan Muslim
berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian
utaranya, mulai dari Caesaraugusta sampai Navarra.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa
pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pada tahun 717
M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah
sekitar Pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada As-Samh bin Malik Al-Khaulani, Gubernur Arab di Provinsi Andalusia (718-721 M). Ia memimpin pasukannya dengan sukses, dan mengepung berbagai kota Perancis termasuk Narbonne, Béziers, Agde, Lodève, Maguelonne (Montpellier) dan Nîmes. Selanjutnya bersama dengan tentaranya dalam jumlah yang
cukup besar segera mengepung kota Toulouse yang memiliki tembok yang amat kuat. Pengepungan berlangsung cukup lama
hingga awal musim panas, menyebabkan pihak yang bertahan mulai kekurangan
perbekalan dan hampir saja terkalahkan. Namun pada tanggal 9 Juni 721 M datang bala bantuan adipati Aquitane, Eudes Agung, dengan pasukan yang besar. Mereka menyerang pasukan As-Samh dari belakang
sehingga pasukan As-Samh terjepit di antara pasukan Toulouse dan Eudes. As-Samh
berusaha melepaskan diri, namun gagal dan terjebak di Ballat. Disinilah As-Samh memutuskan untuk bertempur hingga titik darah terakhir,
akan tetapi nasib berkata lain. Pasukan Kristen berhasil menghancurkan pasukan
As-Samh, dan As-Samh sendiri terluka berat hingga kemudian meninggal tak lama
sesudahnya pada tahun 721
M.
Ekspedisi militer Kekhalifahan Umayyah di Hispania dan Perancis Selatan.
(http://s65.photobucket.com/user/papa_giorgio/media/Islam/CologneFrance.jpg.html)
Kekhalifahan segera mengangkat Abdur Rahman
al-Ghafiqi sebagai panglima perang baru, dan tanpa membuang waktu Abdur Rahman al-Ghafigi balik menyerang kembali kota kaum Frank. Pasukan Muslim Abdur Rahman
al-Ghafiqi berhasil menunjukkan performansnya yang gemilang dengan menaklukkan
Bordeaux dan Poitiers, dan dari kota tersebut ia bergerak menyerang kota
Tours. Namun di tengah jalan, antara Poitiers dan Tours, ia dihadang oleh pasukan pimpinan Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan ia bersama pasukannya terpaksa mundur kembali ke Spanyol. Meskipun gagal akan tetapi pasukan Kekhalifahan masih tetap melakukan
ofensi militer ke Avignon (tahun 734
M), ke Lyon (tahun 743
M), dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Mallorca, Korsika, Sardegna, Kreta, Rhodos, Siprus dan sebagian dari Sisilia hingga jatuh ke tangan pasukan Muslim Dinasti Umayyah. Gelombang ofensi kedua
pasukan Muslim pada permulaan abad ke-8 M menunjukkan hasil yang bagus karena
bukan saja menguasai seluruh Spanyol namun mampu melebar jauh menjangkau
Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar